Jakarta
Sistem Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI)
digugat banyak pihak. Ikatan Guru Indonesia (IGI) menilai sistem itu tak
ada gunanya dan lebih baik dihapuskan.
"Itu nggak ada gunanya,
apa gunanya coba jelaskan ke saya? Selain cuma pelabelan" kata Direktur
Riset dan Pengembangan Program IGI, Puti, saat berbincang di Kantor ICW,
Jl Kalibata IV, Jakarta, Rabu (6/6/2012).
Menurut Puti, tak ada
perbedaan yang nyata antara sekolah RSBI dengan sekolah biasa. Ia
menilai sekolah RSBI hanyalah label yang disematkan oleh sekolah agar
bisa menarik bayaran mahal ke siswa.
Adapun pemakaian bahasa
Inggris yang digunakan dalam kegiatan belajar mengajar di RSBI, Puti
menganggap hal itu tak memberi dampak signifikan ke siswa. Selain sumber
daya guru yang belum siap, ia berpendapat pemakaian bahasa Inggris
membuat siswa kurang mendalami materi pelajaran.
"Tahu nggak
pelatihan bahasa Inggris untuk guru-guru RSBI berapa lama? Cuma 3 hari
sampai seminggu. Itu kan nggak benar," ujarnya berapi-api.
Lebih
jauh, Puti menilai pihak yang paling dirugikan dari sistem RSBI adalah
para siswa. Siswa yang tidak ikut RSBI dirugikan karena RSBI membuat
perhatian pihak sekolah dan pemerintah terfokus pada segelintir anak
yang ikut sistem.
"Yang ikut rugi juga, karena mereka tidak mendapatkan kualitas," tandasnya.
Puti
menunggu putusan atas gugatan yang telah dilayangkan ke Mahkamah
Konstitusi untuk membatalkan RSBI. Ia berharap agar MK mengabulkan
gugatan itu.
www.detik.com
yup ... setelah siswa-siswa dari daerah itu membuktikan kemampuan mereka dalam ujian nasional sekolah berlabel Internasional itu seakan-akan hanyalah sebuah barang dagangan dgn label yang terkenal.ibarat makanan Fastfood dari restoran waralaba luar negri yang minim nutrisi yang ada hanya Maksimal Harganya. ... ck ck ck
ReplyDeletesaya lebih setuju kalo tiap sekolah diberikan fasilitas yg lengkap tanpa mengeluarkan uang yg banyak. RSBI cuma status kok
Delete