JANJI SANG SAHABAT
by : Nia Noverizka
Tiba-tiba saja handphone ku berbunyi, ternyata itu Citra, sahabatku dari SMP. Kami bersahabatan sejak SMP, aku, Citra, dan Awan yang melanjutkan sekolahnya ke Australia. Masih ingat betul aku menjelang kepergian Awan, dia memberikan kami potongan-potongan puzzel yang katanya dia juga punya bagian yang lain, dan berkata “nanti, ketika aku pulang dari Australia, kita satukan lagi puzzel ini. Dan puzzel yang menyatu itu menandakan bahwa kita akan selalu menyatu dan ga’ akan terpisah lagi.” mendengar ucapan Awan kami langsung berpelukan dan menangis. Saat itu tak akan kami lupa.
Dan yang juga tak bisa kulupa adalah hal yang Awan lakukan di malam sebelum dia pergi. Dia mengajak ku pergi, tanpa Citra. Dan dia mengatakan, “aku sayang kamu” aku kaget, tapi ku fikir ini hal biasa yang diucapkan oleh seorang sahabat. Lalu aku jawab santai,
“ga’, sayang aku ke kamu ga’ sama kaya sayang aku ke Citra. Aku sayang dan pengen milikin kamu.” Aku diam, aku bingung harus apa.
“aku bingung. Maksud kamu apa sih?”
“aku yakin kamu pasti tau maksud aku, cuma kamu malu kan! Aku tau ini sulit buat kamu, jadi ga’ usah dijawab sekarang,” jelas Awan. Kemudian dia memberiku serangkai bunga pelastik berwarna-warni, lalu berkata,
“terhitung besok malam ketika aku pergi, aku minta kamu copotin satu per satu kelopak bunga ini, sampai aku pulang. Dan aku pasti pulang saat kamu copot kelopak bunga yang terakhir, untuk meminta jawaban dari kamu. Aku terima apapun jawaban kamu.” Kemudian Awan meninggalkan aku di depan rumah. Aku kaget, bingung, Awan yang aku kenal selama ini ternyata menyimpan perasaan kepadaku. Satu pesannya, “Jangan beritau Citra!”.
Kini udah 3 tahun Awan pergi. Puzzel itu kini sudah jadi sebagian, aku dan Citra yang mengerjakannya. Kami masih setia menunggu Awan, walau sudah 5 bulan lebih kami kehilangan kontak. Dan sejak itu juga Citra mulai putus asa untuk menunggu Awan. Dan sudah 4 bulan lebih dikamar ku terpajang tangkai bunga pelastik yang dulu Awan berikan. Entah mengapa aku masih saja menunggu dia. Menunggu janji dia, dan aku juga sudah punya jawaban untuknya. Aku juga mencintainya.
“yaudah, sebentar lagi gue kesana.” Aku memutuskan untuk menemani Citra jalan-jalan. Aku di sebuah caffe, bersama Citra. Waktu sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam. Aku bertanya pada Citra, apa dia masih merindukan Awan. Tapi dia malah menjawab dengan nada sedikit marah, “udah lah! Sekarang gue udah tau, kalo semua cowo itu ga’ ada yang pernah nepatin janji!” ingin aku mengembalikan semangat Citra yang dulu. “yaa mungkin dia telat. Ini baru beberapa bulan,” kataku. “tau dari mana lo kalo dia bakalan dateng bulan-bulan ini?” aku baru ingat, Citra ga’ tau kalau aku tau dari bunga yang Awan kasih.
“yaudah, sebentar lagi gue kesana.” Aku memutuskan untuk menemani Citra jalan-jalan. Aku di sebuah caffe, bersama Citra. Waktu sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam. Aku bertanya pada Citra, apa dia masih merindukan Awan. Tapi dia malah menjawab dengan nada sedikit marah, “udah lah! Sekarang gue udah tau, kalo semua cowo itu ga’ ada yang pernah nepatin janji!” ingin aku mengembalikan semangat Citra yang dulu. “yaa mungkin dia telat. Ini baru beberapa bulan,” kataku. “tau dari mana lo kalo dia bakalan dateng bulan-bulan ini?” aku baru ingat, Citra ga’ tau kalau aku tau dari bunga yang Awan kasih.
“udah hampir setahun kita lulus SMA. Udah lah lupain aja! Mungkin dia juga udah lupain kita.” kemudian hp-ku berbunyi, ternyata itu mama yang sudah mulai khawatir.
“yaudah, kita pulang yuk! Nyokap lo udah nelpon, ga’ enak gue.” Akhirnya kami pulang, dan aku masih belum bisa mengembalikan semangat Citra. Lalu kami meninggalkan meja menuju tempat parkir. Entah hanya perasaan ku saja atau itu benar-benar dia. Aku melihat mamanya Awan,
“yaudah, kita pulang yuk! Nyokap lo udah nelpon, ga’ enak gue.” Akhirnya kami pulang, dan aku masih belum bisa mengembalikan semangat Citra. Lalu kami meninggalkan meja menuju tempat parkir. Entah hanya perasaan ku saja atau itu benar-benar dia. Aku melihat mamanya Awan,
“Cit! Itu nyokapnya Awan kan?” tanyaku.
“mana? Perasaan lo doang kali! Dari tadi kan lo mikirin Awan, udah lah ga usah dipikirin lagi.” Mobil Citra pun langsung tancap gas. Tapi aku masih penasaran dengan apa yang ku lihat. Kalau memang benar itu mamanya Awan, berarti Awan juga ada di Jakarta. Tapi kanapa dia ga’ kasih tau kita? Apa benar kata Citra. Apa benar Awan sudah benar-benar melupakan kami. Pikiran itu terus menghantui, hingga aku tidak bisa tidur malam itu.
Hari-hari ku lalui dengan rasa penasaran. Dan berkali-kali juga aku mengajak Citra ke rumah Awan untuk memastikan apa dia sudah pulang. Tapi dia malah membentakku dan menyuruhku untuk melupakan Awan. Tapi rasa penasaran ini tetap ada. Akhirnya aku putuskan hari ini untuk ke rumah Awan. Aku akan pastikan sendiri apa Awan sudah pulang, dan apa benar Awan sudah melupakan kami berdua. Dan melupakan janji-janjinya dulu kepada ku.
Disini aku berdiri, di depan rumah Awan. Ku beranikan diri untuk mengetuk pintunya. Tiga kali ketukan baru ada respon. Dan yang membukakan pintu adalah seorang lelaki tegap kemudian bertanya,
“cari siapa ya?”
“Awan?” aku beranikan diri bertanya.
“Citra? Kamu Citra ya?” mendengar kata-kata itu aku langsung yakin bahwa ini Awan. Aku langsung memeluknya. Tanpa sadar aku menangis, dan aku ungkapkan kekecewaan ku.
“maaf, tapi gue bukan Awan,” aku langsung melepas pelukan ku dan segera menghapus air mataku yang terlanjur mengalir deras. Aku malu.
“ga’ apa-apa kok. Gue Langit, abangnya Awan,”
“maaf, Awannya ada. Dia udah pulang belom dari Australia?” tapi dia hanya diam. Dan berkata,
“hhmm.. gini aja, besok lo kesini lagi. Besok gue ajak lo ke Awan. Oiya, ajak si Citra juga ya. Mungkin ini udah saatnya.” Katanya.
“saatnya? Saatnya apa? Emang Awan dimana?” tanyaku penasaran.
“besok juga lo tau. Gue ga bisa cerita disini. Sekarang mending lo gue anter pulang ya.” Akhirnya aku diantar pulang.
Sesampainya dirumah, aku langsung menghubung citra dan menceritakan semuanya, termasuk mengajaknya kerumah Awan besok. Awalnya dia menolak, tapi akhirnya dia setuju juga.
* * *
Dari awal kami berangkat tadi, Citra sepertinya sudah siap-siap melampiaskan kekecewaannya kepada Awan nanti, “liat aja dia ntar, kalo emang dia lupa ama kita!”. Pikiran ku melayang, apa Awan benar udah lupain aku sama Citra, dan apa dia masih akan menanyakan jawabanku, atau... “Tam! Lo kenapa sih? Dari tadi bengong aja?” tanya citra, “ga’, ga’ apa-apa kok!...Cit, lo masih mau marah sama Awan?” aku takut kemarahan Citra akan buat persahabatan kami putus, “Tam, lo tau kan berapa lama kita nunggu dia? Kalo emang dia masih anggep kita ini sahabatnya, mana mungkin dia lupa. Kebangetan banget!” Citra ada benarnya juga, “tapi Cit...” “yaudah, kita turun aja dulu, tapi wajar dong kalo gue kesel ama dia.” Akhirnya kami turun dari mobil dan mengetuk pintu rumah Awan. Seperti kemarin, yang membuka pintu adalah Bang Langit. Aku memperkenalkan dia kepada Citra.
“yaudah, mau langsung aja atau gimana?” tanya Bang Langit.
“emang Awan dimana?” tanyaku penasaran,
“yaudah, kita langsung aja Bang.” Ajak Citra.
“oke, naek mobil gue aja ya. Biar mobil lo taro disini aja.”
Akhirnya kami pergi dengan mobil Bang Langit. Entah kami mau dibawa kemana. Selama perjalanan, perasaan ku tidak mengenakan, aku terus membayangkan apa yang akan terjadi. Apa ini akan berakhir bahagia atau sebaliknya. Aku terus diam, mencoba menebak sebenarnya kemana arah tujuan kami. Padahal Citra dan Bang Langit sudah semakin akrab. Beberapa kali aku tanya kemana sebenarnya kita, tapi Bang Langit hanya menjawab, “...nanti juga lo tau. Gue ga’ bisa cerita disini.” Jawaban itu semakin membuat penasaran. Ada apa sebenarnya?.
“Tam, Cit, disini Awan” kata Bang Langit sambil mengarahkan pandangannya ke sebuah rumah sakit. Jantungku berdetak kencang. Apa yang terjadi dengan Awan?
“Awan sakit apa?” tanyaku
“dia dirawat dikamar 315,” jelas Bang Langit,
“sakit apa dia, Bang?” aku semakin penasaran sekaligus takut terjadi sesuatu pada Awan. Bang Langit malah diam dan raut wajahnya pun berubah sedih. Aku semakin takut,
“Bang! Ada apa dengan Awan!?” aku sedikit membentak,
“Bang! Lo ngomong dong! Jangan bikin kita takut!” desak Cutra yang kelihatan panik juga,
“sebenernya Awan ga’ ngebolehin gue atau siapapun untuk ngasuh tau semua ini ke kalian. Sampe dia bener-bener sembuh.” Jelas Bang Langit.
“yaa, lo udah bawa kita kesini, lo harus cerita ada apa ini?!” Citra kelihatannya semakin panik,
“Awan udah lama dirawat disini. Sekitar tanggal 12, 5 bulan yang lalu,” aku kaget dengan pernyataan Bang Langit. Tanggal 12! Itu adalah tanggal dimana aku melepas kelopak bunga pelastik dari Awan, untuk terakhir kalinya. Apa Awan benar akan datang saat itu?
“malam itu dia izin keluar mengunakan motor kesayangannya. Dia kelihatan bersemangat waktu itu, sambil membawa serangkai bunga. Dia bilang itu buat lo, Tam” Citra langsung melihat kearah ku, seolah bertanya ada apa diantara aku dan Awan.
“..dia bilang, dia akan mendapat jawaban yang dia tunggu selama ini. Aku sudah tau kalau dia emang suka sama lo, Tam. Sepanjang tahun dia selalu membicarakan lo, dan Citra sahabatnya. Dia ga’ pernah lupa sama kalian.” Jelas Bang Langit. Pernyataan Bang Langit seolah mematahkan pikiran Citra selama ini yang menganggap bahwa Awan melupakan kami. Kami berdua hanya terdiam mendengar cerita Bang Langit.
“..tapi sayang, malam itu habis turun hujan, malangnya dia, ketika dia di pertigaan dekat kompleks, motornya tergelincir. Dia terjatuh, tangannya patah, akibat terpental dari motor. Kami langsung membawanya ke rumah sakit ini.
Dia masih sadar waktu itu, dan sempat berpesan untuk tidak memberi tau kalian tentang kejadian itu. Dia ga’ pengen buat kalian khawatir. Sebelum akhirnya dia ga’ sadar diri hampir 2 mingguan, dan dokter memfonis dia, koma.” Aku kaget bukan kepalang.
Air mataku tak bisa ku bendung lagi, begitu juga dengan Citra. Kami menangis. Tangis kami semakin deras ketika kami melihat langsung Awan yang terbaring lemah dengan selang dan peralatan untuk menunjang kehidupannya. Kami langsung disambut oleh mama dan keluarga Awan yang ada di kamar itu. Mama Awan langsung memeluk kami berdua, dan minta maaf karna ga memberi tau,
“tante minta maaf ya Tami, Citra. Tapi Awan yang menyuruh tante untuk tidak memberi tau kalian. Maafin tante.” Dia mengungkapkan penyesalannya dengan terus memeluk kami dan menangis. Aku tak bisa berkata-kata. Kemudian mamanya Awan memberiku serangkai bunga yang sudah layu, yang dari tadi ku lihat terpajang di atas meja disamping tempat tidur Awan.
“ini bunga yang seharusnya kamu terima 5 bulan yang lalu”. Maafkan Awan yang terlambat ya.”
Aku terima bunga itu. Lalu ku dekati Awan yang sedang berbaring lemah. Ku pegang tangannya, dan aku bilang, “Bangun, Wan. Kita susun puzzel dari kamu. Kamu bilang kamu punya bagian yang lain, kan? Aku sama Citra udah selesai setengah. Awan, bangun! Aku mau kasih jawaban aku. Aku juga sayang kamu, Wan.” Aku menangis deras. Citra memeluk ku sambil menangis, dan aku yakin Citra tidak lagi kecewa dengan Awan.
Kini Awan memang telah pulang. Benar-benar pulang. Dua minggu setelah kami mengunjunginya, Awan meninggalkan kami lagi, kali ini untuk selamanya. Walau kami sangat terpukul dengan kepergiannya, tapi kami mencoba untuk ikhlas. Puzzel tidak akan selesai, setidaknya aku telah memberikan jawabanku. Dan memang benar kami sahabat sejati, yang hanya bisa terpisahkan oleh maut. Selamat jalan Sahabat.
* * *

No comments:
Post a Comment