Jakarta
Menjelang pilkada Jakarta 2012 ini, kita setiap hari
sering melihat iklan kampanye di televisi, koran, spanduk, baliho, dan
stiker yang berisikan visi dan misi dari para calon gubernur. Semua
calon gubernur menawarkan berbagai macam pembangunan fisik yang disebut
akan menjadikan Ibukota lebih bermartabat dan manusiawi. Program
pembangunan yang dijanjikan oleh para calon gubernur itu ternyata
semuanya sama, seperti sarana transportasi yang terintegrasi,
pembangunan rumah susun, pengobatan gratis, bebas banjir, pendidikan
gratis, serta layanan masyarakat lainnya.
Dengan demikian,
Jakarta ke depan tidak akan banyak berubah, sebab
misi dan visi para
calon gubernur hanya lebih menekankan pada pembangunan fisik.
Pembangunan yang lebih menekankan pembangunan fisik akan lebih mudah,
sebab para calon gubernur hanya meneruskan pembangunan-pembangunan yang
sudah dilakukan oleh para gubernur sebelumnya.
Kita tahu Jakarta
ini berdiri tidak semalam, namun dari proses yang sangat panjang. Mulai
dari Walikota Jakarta, Suwiryo, 1945 – 1947, hingga Fauzi Bowo saat ini.
Dari sekian gubernur, yang paling fenomenal membangun Jakarta
disebut-sebut adalah Ali Sadikin dan Sutiyoso. Namun pembangunan kedua
gubernur itu tidak akan berarti bila tidak dilanjutkan atau
disempurnakan oleh gubernur berikutnya. Jadi masing-masing gubernur
mempunyai kontribusi yang positif bagi pembangunan Jakarta.
Di
masa Sutiyoso, misalnya, banyak yang sudah dilakukan seperti pembangunan
sarana transportasi TransJakarta, Kanal Banjir Jakarta, dan lain
sebagainya. Apa yang dilakukan oleh Sutiyoso itu disempurnakan oleh
Fauzi Bowo. Bila dalam masa Sutiyoso, TransJakarta hanya memiliki
beberapa koridor, di masa Fauzi Bowo dikembangkan hingga 11 koridor, dan
itu terintegrasi antarkoridor bahkan dengan stasiun kereta.
Transportasi model TransJakarta itu hampir menghubungkan satu titik ke
titik lainnya di seluruh wilayah Jakarta. Jadi bila calon gubernur lain
mengkampanyekan sarana transportasi yang terintegrasi, itu sudah
dilakukan oleh Fauzi Bowo.
Lalu apa yang mesti dilakukan oleh
calon gubernur Jakarta mendatang? Yang luput dari misi dan visi calon
gubernur yang akan datang adalah soal pembangunan mental masyarakat.
Selama ini mental masyarakat Jakarta dalam berperilaku belum sesuai
dengan yang kita harapkan. Kita lihat di jalan, pasar, terminal,
stasiun, atau di tempat-tempat umum lainnya, perilaku masyarakat Jakarta
masih jauh dari disiplin dan menaati peraturan yang ada. Akibatnya
suasana di tempat-tempat umum jauh dari rasa tertib. Kondisi yang
demikian menciptakan suasana kesemrawutan dan menimbulkan kesan kumuh.
Kebiasaan
dalam kondisi yang serba semrawut dan kumuh itu rupanya
menginternalisasi dalam diri dan perilaku masyarakat Jakarta, bahkan
yang tertib justru dianggap aneh. Suasana semrawut, tak tertib, dan
kumuh, dianggap sebagai suatu hal yang biasa, harus diterima, dan
seolah-olah menjadi bagian dari hidup, sehingga ketika pengguna jalan di
Jakarta ugal-ugalan dianggap sesuatu yang wajar, bahkan yang fatal
rumah kebanjiran dianggap sebagai takdir yang harus diterima.
Sikap
yang mungkin kurang tepat dari warga Jakarta lainnya adalah ketika
upaya untuk membangun rumah susun di sekitar sungai-sungai besar di
Jakarta, masyarakat menolak. Alasannya, mereka sudah biasa dengan hidup
di pinggir sungai. Jadi di sini tak ada semangat hidup untuk lebih baik
dan maju. Padahal bila pembangunan rumah susun itu terealisasi, mereka
akan bebas dari banjir yang biasanya setiap waktu mengancam hidup
mereka. Selain itu akan memfungsikan sungai sebagaimana mestinya. Dan
yang pasti, bila sepanjang sungai bersih dari rumah-rumah kumuh,
keindahan dan kebersihan sungai akan tercipta. Jakarta pun akan terlihat
lebih manusiawi.
Untuk itu perlunya di sini para calon gebernur
mempunyai program membangun mental masyarakat agar mereka memiliki
perilaku yang lebih baik, tertib, maju, disiplin, dan memelihara
fasilitas umum. Lengkapnya sarana transportasi, bertambahnya jalan,
banyaknya sarana publik lainnya, tidak akan menyelesaikan masalah bila
mental masyarakat masih seperti sekarang.
Bila kita melihat Singapura, pemerintahannya pasti akan mengeluh bila
perilaku masyarakatnya seperti kebanyakan orang Indonesia, namun
syukurnya perilaku masyarakat Singapura maju dan berkualitas sehingga
pembangunan sarana transportasi yang terintegrasi, sarana publik,
jalan-jalan, menjadi tidak sia-sia. Dengan kedisiplinan dan
ketertibannya, masyarakat Singapura mampu menciptakan Singapura kota
yang manusiawi dan beradab. Kita melihat di Kota Singa itu, tanpa polisi
di jalan-jalan, pengguna kendaraan dan masyarakat mematuhi
aturan-aturan yang ada. Jadi di sini ada kesatuan dan integrasi antara
pembangunan fisik dan pembangunan mental.
Untuk itu, calon
gubernur Jakarta yang akan datang adalah orang yang bisa melanjutkan
program pembangunan yang sudah berjalan. Dasar-dasar pembangunan yang
sudah diletakkan oleh gubernur pendahulu harus disempurnakan. Dan yang
lebih penting adalah mengubah mental masyarakat yang tidak disiplin dan
tertib menjadi masyarakat yang paham akan ketertiban, kedisplinan, dan
keindahan bersama. Dalam membangun mental masyarakat Jakarta yang lebih
baik, penting di sini adalah menegakkan aturan yang ada. Lemahnya
penegakan aturan yang ada membuat masyarakat berbuat seenak sendiri.
www.detik.com
No comments:
Post a Comment