Monday, May 14, 2012

Membangun Mental Warga Jakarta

Jakarta Menjelang pilkada Jakarta 2012 ini, kita setiap hari sering melihat iklan kampanye di televisi, koran, spanduk, baliho, dan stiker yang berisikan visi dan misi dari para calon gubernur. Semua calon gubernur menawarkan berbagai macam pembangunan fisik yang disebut akan menjadikan Ibukota lebih bermartabat dan manusiawi. Program pembangunan yang dijanjikan oleh para calon gubernur itu ternyata semuanya sama, seperti sarana transportasi yang terintegrasi, pembangunan rumah susun, pengobatan gratis, bebas banjir, pendidikan gratis, serta layanan masyarakat lainnya.

Dengan demikian, Jakarta ke depan tidak akan banyak berubah, sebab
misi dan visi para calon gubernur hanya lebih menekankan pada pembangunan fisik. Pembangunan yang lebih menekankan pembangunan fisik akan lebih mudah, sebab para calon gubernur hanya meneruskan pembangunan-pembangunan yang sudah dilakukan oleh para gubernur sebelumnya.

Kita tahu Jakarta ini berdiri tidak semalam, namun dari proses yang sangat panjang. Mulai dari Walikota Jakarta, Suwiryo, 1945 – 1947, hingga Fauzi Bowo saat ini. Dari sekian gubernur, yang paling fenomenal membangun Jakarta disebut-sebut adalah Ali Sadikin dan Sutiyoso. Namun pembangunan kedua gubernur itu tidak akan berarti bila tidak dilanjutkan atau disempurnakan oleh gubernur berikutnya. Jadi masing-masing gubernur mempunyai kontribusi yang positif bagi pembangunan Jakarta.

Di masa Sutiyoso, misalnya, banyak yang sudah dilakukan seperti pembangunan sarana transportasi TransJakarta, Kanal Banjir Jakarta, dan lain sebagainya. Apa yang dilakukan oleh Sutiyoso itu disempurnakan oleh Fauzi Bowo. Bila dalam masa Sutiyoso, TransJakarta hanya memiliki beberapa koridor, di masa Fauzi Bowo dikembangkan hingga 11 koridor, dan itu terintegrasi antarkoridor bahkan dengan stasiun kereta. Transportasi model TransJakarta itu hampir menghubungkan satu titik ke titik lainnya di seluruh wilayah Jakarta. Jadi bila calon gubernur lain mengkampanyekan sarana transportasi yang terintegrasi, itu sudah dilakukan oleh Fauzi Bowo.

Lalu apa yang mesti dilakukan oleh calon gubernur Jakarta mendatang? Yang luput dari misi dan visi calon gubernur yang akan datang adalah soal pembangunan mental masyarakat. Selama ini mental masyarakat Jakarta dalam berperilaku belum sesuai dengan yang kita harapkan. Kita lihat di jalan, pasar, terminal, stasiun, atau di tempat-tempat umum lainnya, perilaku masyarakat Jakarta masih jauh dari disiplin dan menaati peraturan yang ada. Akibatnya suasana di tempat-tempat umum jauh dari rasa tertib. Kondisi yang demikian menciptakan suasana kesemrawutan dan menimbulkan kesan kumuh.

Kebiasaan dalam kondisi yang serba semrawut dan kumuh itu rupanya menginternalisasi dalam diri dan perilaku masyarakat Jakarta, bahkan yang tertib justru dianggap aneh. Suasana semrawut, tak tertib, dan kumuh, dianggap sebagai suatu hal yang biasa, harus diterima, dan seolah-olah menjadi bagian dari hidup, sehingga ketika pengguna jalan di Jakarta ugal-ugalan dianggap sesuatu yang wajar, bahkan yang fatal rumah kebanjiran dianggap sebagai takdir yang harus diterima.

Sikap yang mungkin kurang tepat dari warga Jakarta lainnya adalah ketika upaya untuk membangun rumah susun di sekitar sungai-sungai besar di Jakarta, masyarakat menolak. Alasannya, mereka sudah biasa dengan hidup di pinggir sungai. Jadi di sini tak ada semangat hidup untuk lebih baik dan maju. Padahal bila pembangunan rumah susun itu terealisasi, mereka akan bebas dari banjir yang biasanya setiap waktu mengancam hidup mereka. Selain itu akan memfungsikan sungai sebagaimana mestinya. Dan yang pasti, bila sepanjang sungai bersih dari rumah-rumah kumuh, keindahan dan kebersihan sungai akan tercipta. Jakarta pun akan terlihat lebih manusiawi.

Untuk itu perlunya di sini para calon gebernur mempunyai program membangun mental masyarakat agar mereka memiliki perilaku yang lebih baik, tertib, maju, disiplin, dan memelihara fasilitas umum. Lengkapnya sarana transportasi, bertambahnya jalan, banyaknya sarana publik lainnya, tidak akan menyelesaikan masalah bila mental masyarakat masih seperti sekarang.

Bila kita melihat Singapura, pemerintahannya pasti akan mengeluh bila perilaku masyarakatnya seperti kebanyakan orang Indonesia, namun syukurnya perilaku masyarakat Singapura maju dan berkualitas sehingga pembangunan sarana transportasi yang terintegrasi, sarana publik, jalan-jalan, menjadi tidak sia-sia. Dengan kedisiplinan dan ketertibannya, masyarakat Singapura mampu menciptakan Singapura kota yang manusiawi dan beradab. Kita melihat di Kota Singa itu, tanpa polisi di jalan-jalan, pengguna kendaraan dan masyarakat mematuhi aturan-aturan yang ada. Jadi di sini ada kesatuan dan integrasi antara pembangunan fisik dan pembangunan mental.

Untuk itu, calon gubernur Jakarta yang akan datang adalah orang yang bisa melanjutkan program pembangunan yang sudah berjalan. Dasar-dasar pembangunan yang sudah diletakkan oleh gubernur pendahulu harus disempurnakan. Dan yang lebih penting adalah mengubah mental masyarakat yang tidak disiplin dan tertib menjadi masyarakat yang paham akan ketertiban, kedisplinan, dan keindahan bersama. Dalam membangun mental masyarakat Jakarta yang lebih baik, penting di sini adalah menegakkan aturan yang ada. Lemahnya penegakan aturan yang ada membuat masyarakat berbuat seenak sendiri.

www.detik.com

No comments:

Post a Comment